Kisah Wanita Jelita Minta Ditiduri Ayah Rasulullah SAW, Imbalan 100 Ekor Unta
Tawaran Yang Menggiurkan
Pada suatu hari, Abdullah bin Abdul Muthalib berjalan melintasi jalanan Makkah. Ia adalah seorang pemuda yang gagah, berwibawa, dan dikenal karena ketampanannya yang luar biasa. Wajahnya bersinar dengan cahaya yang memancarkan keistimewaan, sesuatu yang sulit dijelaskan oleh siapa pun yang melihatnya.
Di tengah perjalanannya, ia melewati seorang perempuan dari suku Khats’am bernama Fathimah binti Murr. Ia adalah perempuan yang terkenal tidak hanya karena kecantikannya yang menawan, tetapi juga karena keanggunannya dalam menjaga kehormatan. Selain itu, ia dikenal sebagai perempuan yang cerdas dan memiliki banyak wawasan karena kegemarannya membaca dan belajar.
Banyak pemuda Quraisy membicarakannya, mengaguminya, dan berharap bisa mendapatkan perhatiannya. Namun hari itu, justru ia yang terpana saat melihat Abdullah.
Saat pandangannya tertuju pada wajah Abdullah, ia melihat sesuatu yang berbeda—sebuah cahaya yang bersinar terang. Rasa penasaran pun muncul dalam hatinya, hingga ia mendekati Abdullah dan bertanya,
"Wahai pemuda, siapakah engkau?"
Abdullah menjawab dengan tenang, memperkenalkan dirinya.
Tiba-tiba wanita itu berkata, "Maukah engkau meniduriku? Jika engkau menerima tawaranku, aku akan menghadiahimu seratus ekor unta sebagai imbalan."
Tawaran itu sungguh mengejutkan. Tidak hanya karena jumlah unta yang sangat banyak, tetapi juga karena disampaikan oleh seorang perempuan yang terkenal menjaga kehormatan dirinya. Namun, apa yang sebenarnya mendorongnya untuk melakukan itu?
Abdullah menatapnya dengan penuh keteguhan dan berkata, "Jika engkau mengajakku melakukan perbuatan yang terlarang, maka aku lebih memilih kematian daripada melakukannya. Namun, jika itu dalam kehalalan, maka segala sesuatunya harus dipertimbangkan dengan bijak. Sebab, setiap tindakan memiliki konsekuensi dan harus dipikirkan bagaimana dampaknya di masa depan."
Perempuan itu terdiam. Ia tidak menyangka Abdullah akan memberikan jawaban seperti itu.
Setelah itu, Abdullah meninggalkan tempat tersebut dan kembali ke rumahnya. Setibanya di rumah, ia menemui istrinya, Aminah binti Wahab. Malam itu, Abdullah bersama istrinya.
Pertemuan Kedua Dengan Wanita Jelita
Beberapa waktu kemudian, Abdullah kembali menemui perempuan Khats’amiyah. Namun, kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Perempuan itu tidak lagi menunjukkan tatapan yang penuh ketertarikan seperti sebelumnya.
Melihat perubahan sikap itu, Abdullah bertanya, "Apakah tawaranmu yang dulu masih berlaku?"
Perempuan itu tersenyum tipis, lalu menjawab, "Tidak. Dahulu aku menawarkannya kepadamu, tetapi sekarang aku tidak lagi menginginkannya."
Abdullah merasa heran dan bertanya, "Mengapa sikapmu berubah?"
Perempuan itu tidak langsung menjawab. Ia menatap Abdullah sejenak, lalu balik bertanya,
"Apa yang kau lakukan setelah terakhir kali kita bertemu?"
Abdullah dengan jujur menjawab, "Aku telah bersama istriku, Aminah binti Wahab, dan menidurinya."
Mendengar jawaban itu, perempuan tersebut mengangguk, lalu berkata,
"Demi Tuhan! Aku bukanlah orang yang ragu. Saat pertama kali melihatmu, aku melihat cahaya yang bersinar terang di wajahmu—cahaya yang begitu luar biasa hingga aku ingin memilikinya. Aku ingin agar cahaya itu masuk ke tubuhku. Namun, sekarang aku menyadari bahwa Tuhan telah menetapkan tempatnya sendiri sesuai dengan kehendak-Nya."
Abdullah terdiam mendengar penjelasan itu. Kini ia memahami bahwa perempuan tersebut bukan sekadar menginginkannya sebagai seorang pria, tetapi ia ingin mendapatkan cahaya kenabian yang telah ditakdirkan berada dalam keturunan Abdullah.
Kisah yang Menjadi Perbincangan
Peristiwa ini segera menyebar di kalangan para pemuda Quraisy. Banyak yang membicarakan bagaimana seorang perempuan Khats’amiyah yang terkenal menjaga kehormatannya tiba-tiba menawarkan dirinya kepada Abdullah, dan bagaimana Abdullah dengan tegas menolaknya.
Sebagian orang bahkan membicarakan perempuan itu dengan nada buruk, mempertanyakan alasannya menawarkan diri kepada seorang laki-laki yang baru ia temui. Namun, perempuan itu menjawab dengan penuh keyakinan,
"Aku melihat padanya cahaya yang bersinar, cahaya yang akan menerangi dunia dengan kemuliaannya."
Menurut beberapa riwayat, perempuan itu dikenal sebagai Qatilah binti Naufal, saudari dari Waraqah bin Naufal—seorang alim yang kelak akan mengenali kenabian Muhammad ï·º.
Kisah ini menjadi bukti bagaimana Abdullah bin Abdul Muthalib menjaga kehormatan dan kesuciannya, serta bagaimana cahaya kenabian tetap berada di jalur yang telah ditetapkan oleh Allah.
Posting Komentar